Departemen Nalar dan Intelektual (NALEK) Forum Keluarga Besar Mahasiswa (FKBM) KIP-K menyelenggarakan Kajian Rutin II pada Rabu, 10 Juni 2026, di Kantin Pusgiwa UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Kegiatan ini menjadi ruang diskusi bagi mahasiswa KIP-K dan Non KIP untuk bertukar pendapat mengenai isu-isu yang berkembang di lingkungan kampus.
Mengusung tema “Benarkah Hedonisme Menjadi Gaya Hidup Dominan di Kalangan Mahasiswa KIP Saat Ini?”, kajian menghadirkan dua pemateri, yaitu Ketua DEMA U, Muhamad Syahid, dan Ketua SEMA U, Taosyekh Nawawi, yang mewakili sudut pandang mahasiswa non-KIP maupun penerima KIP.
Dalam sambutannya, Kepala Departemen NALEK, Raisa Aulia Julianty, berharap kajian rutin ini dapat menjadi wadah penyampaian pandangan sekaligus sarana edukasi agar mahasiswa KIP lebih bijak dalam menjaga diri dari stereotipe negatif yang berkembang di lingkungan kampus.
Ketua Umum FKBM KIP-K, Adam Mustaqim Jiddan menambahkan bahwa tema ini lahir dari keresahan bersama dan diharapkan menjadi pengingat bagi mahasiswa KIP-K untuk menjalankan amanah beasiswa secara bertanggung jawab dan bermanfaat bagi sesama.
Pada pemaparannya, Muhamad Syahid menjelaskan bahwa perilaku hedonis sering dipengaruhi oleh fenomena Fear of Missing Out (FOMO), yaitu dorongan untuk mengikuti gaya hidup lingkungan agar tidak merasa tertinggal. Kondisi tersebut dapat memicu perilaku konsumtif hingga penyalahgunaan dana apabila bantuan pendidikan tidak digunakan sesuai kebutuhan.
Sementara itu, Taosyekh Nawawi menyoroti pentingnya ketepatan sasaran dalam proses seleksi penerima KIP. Menurutnya, persepsi mengenai gaya hidup hedonis di kalangan penerima KIP juga dapat dipengaruhi oleh adanya penerima yang sejak awal tidak memenuhi kriteria, tetapi tetap lolos melalui berbagai celah dalam proses seleksi.
Diskusi berlangsung interaktif dengan berbagai pertanyaan dan pandangan dari peserta. Wakil Ketua DEMA U berharap kajian ini tidak berhenti pada tataran wacana, melainkan diikuti langkah konkret dari FKBM KIP-K dalam mendorong pengawasan penggunaan dana beasiswa sesuai peruntukannya.
Salah satu peserta juga menekankan pentingnya introspeksi diri dan kepekaan sosial di kalangan mahasiswa KIP. Menurutnya, perilaku flexing dan gaya hidup berlebihan dapat memperkuat stereotipe negatif, sehingga diperlukan kesadaran individu serta perbaikan regulasi seleksi agar program KIP benar-benar tepat sasaran.
Melalui kajian ini, FKBM KIP-K berharap dapat membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya tanggung jawab, integritas, dan pemanfaatan beasiswa secara bijaksana demi terciptanya lingkungan mahasiswa yang lebih peduli dan berkeadilan.
Ikuti perkembangan Kabinet Harmonisa Fantastica, saksikan karya-karya nyata, dan bersama-sama wujudkan masa depan fkbm kipk yang lebih indah.
📩Hubungi kami:
085863520870
📍 Ikuti update terbaru di Instagram & TikTok @fkbmkipk_uinbanten